Menu
0819-1313-1328

Etika Berhutang

Wednesday, May 17th 2017.

etika berhutang

Etika Berhutang

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita bahwa ketiak mereka tidak memiliki pasokan untuk usahanya, atau tidak mempengaruhi suplay yang cukup untuk menutup kebutuhannya, maka ia akan berhutang baik kepada sesama individual maupun kepada lembaga tertentu (Bank). Namun ada satu resiko yang berpotensi sellau muncul dalam praktek hutang-piutang tersebut, yakni bisa berubah menjadi praktek riba. Na’udzubillah. Dan ini sudah banyak bahkan —–kata mereka—-itu dinggap sebuah keuntungan yang berlipat ganda dan wajar bila dipaksakan.

Karena alasan inilah, maka kita perlu mencegahnya secepat mungkin dan salah satu caranya adalah dengan mengenal etika atau adab dalam berhutang. Hal demikian pentin, karena bagaimanapun juga yang namanya adab meripqkan pondasi awal atau “pengontrol’ dalam segala aktivitas kita supaya tetap pada jalurnya yang benar. Lalu apa sajakah etika berhutang tersebut?. Sebagaimana dilansir dari laman almamhaj.co.id., etika Berhutang adalah sebagai berikut:

  1. Hutang tidak boleh mendatangkan keuntungan bagi si pemberi hutang. Karena hal demikian bisa mendatangkan riba sebagaimana kaidah fikih berbunyi : “Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba”. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan. Sedangkan menambah setelah pembayaran merupakan tabi’at orang yang mulia, sifat asli orang dermawan dan akhlak orang yang mengerti membalas budi.
  2. Kebaikan (seharusnya) dibalas dengan kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu.orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas dengan setimpal”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian” (HR. Bukhari).
  3. Berhutang dengan niat baik. Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah zhalim dan melakukan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti.
  4. Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar
  5. Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
  6. Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi berikut: “Barangsiapa yang mengambil harta orang (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya, maka Allah.” (HR. Bukhari).

  1. Hutang tidak boleh disertai dengan jual beli. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah melarangnya, karena ditakutkan dari transaksi ini mengandung unsur riba. Seperti, seseorang meminjam pinjaman karena takut riba, maka kiranya dia jatuh pula ke dalam riba dengan melakuan transaksi jual beli kepada yang meminjamkan dengan harga lebih mahal dari biasanya.
  2. Wajib memabayar hutang. Ini merupakan peringatan bagi orang yang berhutang. Semestinya memperhatikan kewajiban untuk melunasinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita menunaikan amanah. Hutang merupakan amanah di pundak penghutang yang baru tertunaikan (terlunaskan) dengan membayarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimnya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [an-Nisa/4 : 58].

  1. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman, karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan.
  2. Berusaha mencari solusi sebelum berhutang, dan usahakan hutang merupakan solusi terakhir setelah semuanya terbentur.

 

  1. Menggunakan uang dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan.
  2. Pelimpahan hutang kepada yang lain diperbolehkan dan tidak boleh ditolak

Jika seseorang tidak sanggup melunasi hutangnya, lalu dia melimpahkan kepada seseorang yang mampu melunasinya, maka yang menghutangkan harus menagihnya kepada orang yang ditunjukkan, sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah :

Menunda pembayaran bagi roang yang mampu merupakan suatu kezhaliman. Barangsiapa yang (hutangnya) dilimpahkan kepada seseorang, maka hendaklah dia menurutinya.”(HR. Bukhari).

Demikian lah sepuluh etika.falam berhutang. Semoga dengan mengenal etika-etika ini, kita semakin berhati-hati dalam melakukan transaksi hutang-piutang, supaya tidak terjerumus  riba yang haram dan sangat merugikan. Amin.[]

Properti Terbaru

Terbaik
Rumah Murah di Palembang Salma Park Residence

Rumah Murah di Palembang Salma Park Residence

342.900.000
Jalan Talang Betutu Palembang
Lt/Lb : 91 m2 m² / 40 m2 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Tangerang Ciledug Casamabda2 KPR

Perumahan Syariah Tangerang Ciledug Casamabda2 KPR

RP 750.000.000
Jl. Telaga 3 Rt.04/01 Kel. Pedurenan Kec. Karang Tengah Kota Tangerang
Lt/Lb : 72 m2 m² / 72 m2 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Bogor Casamabda3 Dramaga KPR Properti

Perumahan Syariah Bogor Casamabda3 Dramaga KPR Properti

RP 210.000.000
Jl. Ciherang, Kp. Rawa Kalong RT 08 RW 01, Desa Ciherang, Kec. Dramaga, Kab. Bogor - Jawa Barat
Lt/Lb : 60 m² / 36 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Tangerang Kavling Yudhistira

Perumahan Syariah Tangerang Kavling Yudhistira

Rp. 799.000.000
Jl. Yudhistira perumahan karang tengah permai
Lt/Lb : 60 m² / 66 m²
Lihat Detail »