Menu
0819-1313-1328

Al-Qur’an: Pamungkas Kitab Samawi

17th May 2019 Harga : Lokasi : Kode listing : L.Tanah : m² L.Bangunan : m²

Gambar / Foto Al-Qur’an: Pamungkas Kitab Samawi

Detail Info Al-Qur’an: Pamungkas Kitab Samawi

Kode listing:
Harga:
Lokasi:
Luas Tanah:
Luas Bangunan:
Sertifikat:
Daya listrik:
Kamar Tidur:
Kamar Mandi:
Jumlah Lantai:
Garasi:
Menghadap:

Deskripsi Mobil Al-Qur’an: Pamungkas Kitab Samawi

Al-Qur’an: Pamungkas Kitab Samawi

 

Nabi Muhamad SAW. adalah Nabi terakhir yang diutus Allah SWT untuk seluruh alam dan tidak ada Nabi lagi setelah beliau (QS. al-Ahzab[33]: 40).[1] Dengan pernyataan ini, maka risalah dan kenabian beliau bersifat general (syumul) bagi makhluk apapun di zaman terakhir ini. Keumuman risalah tersebut, dengan sangat tegas di sampaikan oleh Allah SWT dalam Surat al-A’raf ayat 185 dan Surat al-Saba’ ayat 25:

“Katakanlah: “Hai manusia, sesung-guhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua,”. (QS. al-A’raf[7]: 185).

“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui. [QS. al-Saba’ (34): 28]

Karena keumuman risalah inilah, Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya juga bersifat umum. Artinya, ia ditunjukkan untuk seluruh manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (QS. al-An’am[6]: 19).

Ayat di atas, menurut Quraish Shihab (l. ) tengah menggambarkan tentang risalah Nabi SAW. yang bersifat umum dan fungsi Al-Qur’an yakni sebagai peringatan kepada masyarakat manusia yang tidak hanya pada masa beliau saja, tetapi untuk manusia seluruhnya kapan dan dimanapun mereka berada. Namun, lanjut beliau, dari sisi lain, penggalan ayat ini juga mengisyaratkan bahwa yang tidak terjangkau oleh ajakan Al-Qur’an itu tidak akan dituntut pertanggungjawaban, tetapi yang dituntut itu adalah kaum muslimin yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi tetapi tidak melakukannya (Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2007), cet. VIII, hal. 46, vol. VI).

Senada dengan itu, Dr. Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi (w. ) juga menyampaikan maksud keterkaitan keumuman risalah Nabi SAW. dan Al-Qur’an tersebut dalam kitabnya, Khashaish Al-Qur’an sebagai berikut: “ketika risalah Nabi itu bersifat umum, dan Al-Qur’an ditujukan untuk seluruh manusia, yakni siapa saja yang berada di zaman beliau dan siapa saja yang berada di zaman setelahnya. Dengan keumuman ini, maka bisa dipastikan bahwa risalah Nabi merupakan risalah paling akhir, dan Al-Qur’an adalah kitab paling akhir yang diturunkan. Dengan demikian, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk membutuhkan agama baru selagi agama ini (Islam) masih terus mengatur dan merekam semua…..”  (Abdurahman, 1997: …..).

Dari pernyataan Dr. Fahd (w. ) di atas dapat disimpulkan bahwa karena keumuman risalah sebagai Nabi SAW. akhir zaman, maka secara tidak langsung telah menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab sawami yang paling akhir diturunkan dan tidak ada kitab lagi setelahnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan maksud keberadaan Al-Qur’an sebagai kitab penutup yakni bahwa ia (Al-Qur’an) adalah hujah/argumen yang kokoh bagi siapa saja yang menyampaikannya baik dari golongan jin maupun manusia di setiap zaman dan tempat manapun sebagaimana keterangan QS. al-An’am[6]19 di atas. Oleh karena itu— tegas beliau— Muqatil bin Sulaiman (w.  ), seorang mufasir masa sahabat berkata: “siapa saja yang menyampaikan Al-Qur’an baik dari golongan manusia maupun jin, maka ia adalah peringatan bagi mareka,  sampai kiamat  tiba” (Abdurahman, 1997:..).

Masih dalam kitab yang sama, Syekh Fahd juga menyebutkan tiga pengertian lain dari status Al-Qur’an sebagai kitab penutup yakni: pertama, ditutupnya kitab samawi dengan Al-Qur’an juga menegaskan akan kesempurnaan agama Islam. kedua, mengisyaratkan atas kesempurnaan dan komplitnya syariat Islam hingga memenuhi semua kebutuhan manusia. ketiga, menegaskan bahwa Al-Qur’an akan terus terjaga dari segala jenis pemalsuan, pengurangan dan pendistorsian (Abdurahman, 1997:….).

Maksud dari status Al-Qur’an sebagai kitab penutup juga yang menegaskan kesempurnaan agama Islam adalah bahwa semenjak kehadiran Al-Qur’an yang bersifat general itu, ia telah memposisikan agama Islam sebagai satu-satunya agama yang paling sempurna yang berlaku untuk semua makhluk di bumi. Ini berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya, bahwa saat itu, setiap Nabi yang diutus hanya untuk kaumnya sendiri dan risalahnya pun dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, kitab-kitab sebelum Al-Qur’an hanya diperuntukkan bagi satu kaum tertentu sesuai dengan zaman dan Nabi yang diutus saat itu. Oleh karena itulah, Allah SWT berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah[5]: 3).

Lalu maksud kedua yang menyatakan bahwa kehadiran Al-Qur’an sebagai kitab penutup itu juga telah menyempurnakan syariat Islam adalah dari segi aturan, norma, hukum dan sistem keagamaan, Al-Qur’an telah menyempurnakan itu semua yang semata-mata hanya untuk kemaslahatan manusia di bumi ini. Semua syariat sebelum Islam, tidak dihapus semuanya, melainkan disempurnakan sedemikian rupa hingga tak ada kekurangan dan perubahan di dalamnya. Berkaitan dengan ini Allah SWT berfirman:

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (QS. al-An’am [6]: 114).

Sementara maksud ketiga yang mengatakan kalau kehadiran Al-Qur’an sebagai kitab penutup itu telah terpelihara dari pemalsuan adalah bahwa Al-Qur’an itu berbeda dari kitab-kitab samawi terdahulu, yakni berbeda bahwa ia akan terus terjaga keorisinilannya sampai hari kiamat; tak seorang pun yang bakal bisa menandinginya atau memalsukannya karena Allah sendiri yang menjaga dan menjamin hal sehingga itu tak akan terjadi sampai kapan pun. Dan seandainya ada upaya yang mencoba untuk melakukan perubahan atau pemalsuan terhadap Al-Qur’an, maka tidak butuh waktu lama untuk melacaknya dan pasti terkuak sebab Al-Qur’an sudah melekat di dada umat Islam di seluruh negara dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi sampai datangnya hari kiamat, sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”(QS. al-Hijr[15]: 9).

Semua pertanyaan di atas tentu akan langsung dijustifikasi dan diafirmasi oleh seluruh umat muslim. Namun barangkali tidak bagi segelintir orang yang mengaku pengikut Ahmadiyah. Yakni suatu kelompok yang amat fanatik kepada Mirza Ghulam Ahmad (w. 1908 M) yang digadang-gadang sebagai mujadid (pembaharu) bahkan nabi di tanah Qadiniyan, India pada zaman akhir ini. Ya, pasalnya aliran satu ini ternyata memiliki pandangan yang berbeda dengan mayoritas umat yakni mereka berkeyakinan bahwa pengutusan Muhammad sebagai seorang Nabi, bukanlah untuk terakhir kalinya, melainkan setelah beliau masih ada utusan (rasul) lagi yaitu Mirza Ghulam Ahmad dengan dalil QS. al-Ahzab[33]: 40 dimana kata khatam al-Nabiyin ditafsirkan oleh mereka dengan “cincin (perhiasan) para nabi” bukan “pamungkas para nabi”, sehingga ayat tersebut seolah-olah memberikan celah terkait adanya nabi baru setelah Muhammad, atau dalam istilah Mirza sendiri dengan “nabi bayangan”. Sebagaimana perkataannya sendiri berikut ini;

“Aku telah menyebutkan berkali-kali bahwa apa yang aku baca merupakan firman Allah seperti halnya Al-Qur’an dan Taurat. Aku adalah seorang nabi bayangan yang diutus Allah. Setiap Muslim wajib taat kepadaku dan wajib mengimani bahwa aku adalah al-Masih yang dijanjikan akan datang. Karena itu, barangsiapa yang mengetahui dakwahku, tetapi ia tidak beriman kepadaku, maka sikapnya itu akan di hisab di akhirat, meskipun ia telah bersaksi tiada ada Tuhan selain Allah” (Tim Aswaja NU Center, Risalah Ahlusunah wa al-Jama’ah, hal. 137).

Lebih tegas lagi, sampai-sampai beliau menyatakan dirinya sebagai nabi, dan paling berhak mendapatkan gelar kenabian (nubuwwah) dari seluruh umat ini;

“Orang-orang sebelumku, baik dari kalangan wali, ulama maupun pemimpin umat Islam, tidak ada yang pernah mendapatkan nikmat yang sangat besar ini. Allah tidak memberikan gelar ‘nabi’ kepada umat Muhammad kecuali hanya kepadaku. Sedangkan umat Nabi Muhammad lainnya tidak berhak atas sebutan tersebut.’ (Tim Aswaja NU Center, Risalah Ahlusunah wa al-Jama’ah, hal. 138).

Jika demikian yang dipahami, berarti sama saja mengindikasikan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW. tidak bersifat syumul (general) lagi, dan bersamaan itu pula, kitab Al-Qur’an akhirnya tidak lagi sebagai kitab pamungkas dari seluruh kitab samawi yang ada, melainkan tergantikan oleh kitab mereka yang bernama “Tadzakirah“., Apakah ini benar?. Tentu saja tidak. Sebab, klaim mereka terkesan ngawur bahkan tidak disadari oleh hujah yang dapat dipertanggungjawabkan. Setidaknya ada beberapa alasan untuk membenarkan hal ini. Sebagaimana yang dikutip oleh Hartono Ahmad Jaiz dalam Gerakan Ahmadiyah dari penelitian LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) yakni sebagai berikut: pertama, Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dan rasul. Dan siapa saja yang tidak mempercayainya, maka ia kafir dan murtad. Padahal, umat dan ulama sejak dulu hingga kini, telah sepakat bahwa tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. baik secara naqli maupun aqli (QS. Al-Ahzab[33]: 40); kedua, klaim mereka terhadap Kitab Tadzkirah sebagai [bagian] wahyu suci bernilai syariat yang disejajarkan dengan kitab Al-Qur’an dan kitab samawi lainnya (Taurat, Zabur dan Injil) adalah kekeliruan yang amat fatal. Sebab, tidak semua percakapan Tuhan dengan makhluk-Nya disebut sebagai wahyu apalagi syari’at—terlebih Nabi Muhammad SAW. sudah wafat. Namun yang benar, barangkali digolongkan sebagai ilham/Irsyad sebagaimana percakapan Tuhan dengan Fir’aun atau dengan semut dan lebah. Ketiga, aliran satu ini memiliki tempat ibadah haji tersendiri yakni di  Rabwah dan Qadian di India. Padahal, sejak dulu, tempat ibadah umat muslim sudah final yakni Baitul Maqdis yang kemudian dipatenkan di Mekah dan Madinah (QS. Al-Baqarah[]: 142-145, QS. al-Maidah []: 97, QS. Ali Imran []: 96-97, QS. al-Baqarah []: 125). Keempat, mereka memiliki perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri, yakni Suluh, Tablig, Aman, Syahadat, Hijrah, Ihsan, Wafa, Zuhur, Tabuk, Ikhfa, Nubuwwah dan Fatah. Sedangkan tahunnya disebut Hijri Syamsi. Padahal, seluruh umat sejak dulu sudah sepakat bahwa perhitungan bulan atau tanggal sudah ditetapkan dalam nash yang qath’i mulai dari Muharam hingga Dzul Qa’dah (QS. Al-Taubah[9]: 36) dan Qamariyyah sebagai nama bulannya (Hartono Ahmad Jaiz, Gerakan Ahmadiyah, (Riyadh: Maktabah al-Ta’wun, 2009/1430), hal. 11). MUI, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Bidang Aqidah dan Aliran Keagamaan, hal. 106-109).

Setidaknya inilah kekeliruan-kekeliruan Ahmadiyah yang kesemuanya termuat dalam Kitab al-Tadzkirah tersebut, yang secara tidak langsung justru memperjelas bahwa kitab mereka itu sangat ganjil dan mengandung klaim-klaim aneh yang dapat menyesatkan umat sebab telah keluar dari jalur yang disepakati.

Maka, dari semua pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an tetap sebagai satu-satunya kitab sawami yang paling akhir diturunkan. Ia adalah kitab penutup untuk umat Muhammad hingga datangnya hari kiamat. Ia adalah kitab yang bersifat umum, oleh karena itu, ia diperuntukkan untuk seluruh umat manusia di alam ini tanpa terkecuali. Ia adalah kitab penutup yang telah mengukuhkan bahwa agama Islam yang kita yakini ini merupakan agama yang sempurna, dan satu-satunya agama yang diridhoi Allah SWT. Ia adalah kitab penutup yang telah menjadikan syariat Islam sempurna dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan manusia di zaman akhir ini. Dan ia juga satu-satunya kitab penutup yang akan terus tejaga kesuciannya, keasliannya serta kehebatannya hingga kiamat tiba. Semua ini, tidak lain adalah bentuk-bentuk keistimewaan Al-Qur’an yang tidak dimiliki oleh kitab manapun. [ ]

[1] Yang artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (qs. al-Ahzab[33]: 40).

Properti Lain Lokasi

Terbaik
Perumahan Syariah di Mekarsari Kota Bogor

Perumahan Syariah di Mekarsari Kota Bogor

Rp.375.000.000
Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat
Lt/Lb : 60 m² / 36 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Adreena Village Mekarsari Kota Bogor

Perumahan Syariah Adreena Village Mekarsari Kota Bogor

Rp.436.000.000
Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat
Lt/Lb : 72 m² / 42 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Sakinah Residence  Cibinong Kota Bogor

Perumahan Syariah Sakinah Residence Cibinong Kota Bogor

299.903.000
Pabuaran Cibinong Bogor
Lt/Lb : 45 m² / 27 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Cilap Residence Suka Bumi

Perumahan Syariah Cilap Residence Suka Bumi

Rp.295.000.000
Jl. Pelabuan 2, km 9, Kec. Gunung Guruh, Desa kebon manggu, Sukabumi
Lt/Lb : 72 m² / 39 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Nakhiil Bojong Gede Kota Bogor

Perumahan Syariah Nakhiil Bojong Gede Kota Bogor

Rp.630.000.000
bojong gede bogor
Lt/Lb : 60 m² / 54 m²
Lihat Detail »