Menu
0819-1313-1328

al-Qur’an: Bahasa Ilahi yang Sempurna

7th May 2019 Harga : Lokasi : Kode listing : L.Tanah : m² L.Bangunan : m²

Gambar / Foto al-Qur’an: Bahasa Ilahi yang Sempurna

Detail Info al-Qur’an: Bahasa Ilahi yang Sempurna

Kode listing:
Harga:
Lokasi:
Luas Tanah:
Luas Bangunan:
Sertifikat:
Daya listrik:
Kamar Tidur:
Kamar Mandi:
Jumlah Lantai:
Garasi:
Menghadap:

Deskripsi Mobil al-Qur’an: Bahasa Ilahi yang Sempurna

al-Qur’an: Bahasa Ilahi yang Sempurna

Salah satu yang menjadikan al-Qur’an berbeda dari kitab-kitab yang lain adalah karena menggunakan bahasa yang paling sempurna. Sekalipun diturunkan dengan bahasa pribumi yakni bahasa Arab, namun bahasa al-Qur’an melebihi bahkan melampaui dari batas normal kaidah-kaidah kebahasaan saat itu dan saat ini. Sebab, ia dihadirkan dalam bentuk bahasa Arab yang jelas lagi fasih (Qs. al-Syu’ara []: 195). Lebih jauh, bahwa  sempurnanya bahasa al-Qur’an, itu menunjukkan bahwa ia memang bukan keluar dari lisan seorang manusia, melainkan benar-benar dari kalam (perkataan) dzat paling sempurna, Allah SWT. Oleh sebab itu, pantas lah jika ia adalah kitab suci yang paling istimewa pernah ada dan terus abadi.

Pertama kali al-Qur’an ini berinteraksi dengan masyarakat Arab saat itu, yakni di awal penurunannya— mereka yang notabene adalah penduduk berpendidikan lagi berperadaban terutama dalam hal kebahasan dan kesusastraan seperti puisi, prosa dan lain sebagainya sebagainya, justru terdecak kagum nan keheranan dengan lantunan bahasa al-Qur’an ini. Padahal sama-sama dalam format bahasa Arab. Awalanya mereka mengira, bahwa ia merupakan ‘karya nabi’ yang sengaja dibuat untuk mengelabui musuh-musuhnya sehingga dengan suka rela mereka mau masuk ajarannya, namun lama-kelamaan rasa kekaguman itu berubah menjadi satu bentuk ketundukan yang pada akhirnya, dengan suka cita, mereka berkenan mengakui kedasyatan bahasa ilahi tersebut. Maka tak ayal, bila tokoh-tokoh seperti Khalid bin Walid,  bahkan sekelas Umat adalah deretan tokoh yang masuk Islam sebab kekuatan bahasa al-Qur’an ini.

Akan tetapi, mereka (baca: musyikrin dan orang kafir) yang sejak dari awal sudah menanamkan rasa benci dan dendam kepada Muhammad dan ajarannya, Jangankan diminta mengakui risalah Nabi, disuruh mendengarkan saja, mereka sudah kepanasan dan tidak betah. Kelompok ini, selalu saja membuat fitnah dan pelbagai propaganda kepada seluruh penduduk setempat, bahwa apa yang diucapkan Muhammad adalah kebohongan, sihir yang amat berbahaya. Jangan pernah mau mendengar khutbah darinya. Demikian seruan mereka. Sehingga dengan propaganda ini, para penduduk dengan sendirinya akan langsung menjauhi Nabi dan sudah memasang kewaspadaan sebelum bertemu sosok “berbahaya” itu. Tidsk sampai di sini, kebencian mereka juga ditunjukkan dengan menampilkannya para penentang yang sok jagoan — yang dengan lagaknya, bersikukuh ingin membuat bahasa yang seperti ucapan Nabi itu. Yakni dengan munculnya para Nabi palsu seperti Musailamah al-Kadzab untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa al-Qur’an adalah buatan Nabi. Dengan lantang mereka berkata: kita juga bisa membuat seperti itu bahkan lebih baik darinya. Bukannya berhasil, usaha itu justru malah membuat orang-orang menertawakan dirinya dan satu-satu persatu, masyarakat pun menjauhinya.

Setelah melihat fenomena di atas, tentu kita akan bertanya-tanya; apa sih yang membuat bahasa al-Qur’an menjadi amat sempurna, toh pada kenyataany ia juga diucapkan oleh Nabi Muhammad?. Untuk mengetahui hal tersebut, sebenarnya dibutuhkan ketajaman dalam berbahasa, atau paling tidak tahu tentang bahasa Arab itu sendiri. Oleh sebab itu, tidak berlebihan, bahwa yang merasakan dashyatnya kekuatan bahasa al-Qur’an adalah mereka orang-orang yang ahli kebahasaan, seperti ulama ahli retorika, ahli balaghah, dan ulama bahasa itu sendiri. Untuk itu, kita orang awam — terlebih orang-orang non arab— paling hanya sedikit merasakannya, yakni terlihat pada kekaguman kita tatkala lantunan ayat dibacakan oleh seorang Qari yang merdu suaranya. Namun jangan kwatir, karena para ahli-ahli di atas, sudah mencurahkan tenaganya untuk menguak misteri kehebatan bahasa al-Qur’an tersebut. Dan kita, cukup menikmati hasilnya hari ini. Setidaknya ada beberapa segi yang menunjukkan kesempurnaan bahasa al-Qur’an tersebut, yakni sebagai berikut;

Pertama, bahasa al-Qur’an itu tidak pernah dusta (Qs. al-Baqarah []: 2). Artinya, segala yang disampaikan oleh al-Qur’an melalui bahasanya, itu merupakan suatu kenyataan dan fakta; bukan dusta atau khayalan, apalagi dongeng belaka. Ini karena bahasa al-Qur’an adalah bahasa ilahi, bahasanya dzat yang tak pernah mengingkari janji-janji-Nya (Qs. Ali Imran []: 9). Berbeda dengan bahasa manusia (Kalam Basyari), yang sarat sekali dengan unsur kebohongan. Bahasanya manis nan menarik, namun amat pahit untuk di didengarkan. Sekarang bilang Apa, besok bilang b. Dan seterusnya. Selalu berubah-ubah. Sementara al-Qur’an, tidak demikian. Ia selalu konsisten dan bertanggung jawab. Kita bisa ambil contoh misalnya, tentang bahasa al-Qur’an yang menginformasikan bahwa kerajaan Romawi akan terkalahkan yakni di surat Surat al-Rum ayat 1 – 5. Pada ayat tersebut, al-Qur’an menggunakan kata (غلبت ) kata kerja bentuk lampau— yang ini tentu menunjukkan bahwa kejadian tersebut akan dan memang pasti terjadi. Dan betul, pada abad berikutnya, setelah Rasulullah wafat, peristiwa tersebut merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan oleh siapapun. Inilah al-Qur’an, bahasanya amat meyakinkan dan semuanya bernilai kejujuran; bukan omong kosong apalagi harapan palsu.

Kedua, bahasa al-Qur’an itu tidak pernah salah (Qs. Fushilat []: 42). Artinya, ia selalu benar dari segi atau sisi manapun; yang ada, ia akan tetap memancarkan kemilau cahaya kebenaran nan keistimewaan; tidak sedikit pun terlihat cacat atau keliru di dalamnya. Hal ini karena ia merupakan bahasa sakral yang diturunkan dari Allah SWT. Contoh kecil misalnya yang berkaitan dengan tata bahasa al-Qur’an, bahwa ia sangat tepat, teliti dan fasih. Bahkan melebihi rumusan tatanan bahasa Arab pada umumnya. Yakni Mulai dari aspek diksinya, retorikanya, hingga aspek ritme setiap ayat-ayatnya; semua serasi dan seimbang— toh sekalipun jika ada satu atau dua kata al-Qur’an yang dilihat bertentangan atau menyalahi aturan baku gramatikal al-arab (baca: Nahwu-Sharaf), seperti kata  الصابئون (Qs. al-Maidah []: 69) yang dibaca Rafa, padahal semestinya dibaca nasab (الصابئين ) sebab ada huruf إن —، itu bukan berarti bahasa al-Qur’annya yang salah, justru malahan ia adalah bukti bahwa al-Qur’an sudah melampaui batas dan bebas dari atauran-aturan konvensional kebahasaan yang ada; ia sudah memiliki aturan yang lebih akurat, bahkan keberadaannya adakah “insipirasi” dari lahirnya aturan gramatikal Arab atau kebahasaan itu sendiri.

Baiklah, mari kita buktikan kebenaran tersebut dengan merujuk kembali pada kata الصابئون  di atas, bahwa menurut sebagian kalangan terutama orang-orang awam dan para pemikir barat, kata itu pada surat al-Maidah adalah salah karena menyalahi kaidah ilmu alat/nahwu yang paten. Semestinya ia dibaca الصابئين karena kemasukan إن, katanya. Apakah klaim benar?, tentu tidak. Mereka lah yang salah paham dan belum mengetahui betul tentang seluk beluk ilmu bahasa Arab itu sendiri; sehingga dengan mudah langsung memvonis keliru. Setidaknya ada dua pendapat terkait persoalan lafaz tersebut. Yaknis sebagai berikut;

Pertama, dari jumhur ulama ahli Nahwu, bahwa munurut mereka, huruf Inna ( إن ) dan Asobiun ( الصابئون) itu dirafa’kan menjadi mubtad, sementara khabarnya terbuang pada kata إن اللذين أمنوا . Pendek kata, mengakhirkan kata assobiun (الصابئون)setelah kata: wannasoro (والنصارى)dan ini adalah bentuk nizom makna. Sehingga kira-kira ayat ini, aslinya berbunyi; إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى من امن منهم بالله واليوم الأخر فلا خوف عليهم ولا هم يخزنون والصابئون كذلك. (Sesungguhnya orang mukmin orang yahudi orang kristen siapa saja diantara mereka yang beriman kepada allah dan hari akhir kamudian mereka beramal sholeh mereka mendapt pahala dari sisi tuhan tidak ada kewatiran terhadap mereka dan mereka tidak pula mereka bersedih hati. demikian juga orang sabiin( orang yang keluar dari agama samawiyah)Mereka juga akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang mukmin,yahudi dan nasrani jikalau mereka beriman kepada allah dan beramal saleh.) Internet Muttaqi, Kesalahan Tata Bahasa al-Qur’an, http://www.muttaqi89.com/2016/03/kesalahan-tata-bahasa-alquran-al-maidah.html?m=1 diakses pada 23 Agustus 2018 pukul 15.17 WIB).

Kedua, dari sebagian ulama berpendapat bahwa inna ( إن ) tersebut bukanlah, INNA NASIHAH (إن الناسخة) yang menasabkan mubtada dan meropakkan khobar akan tetapi ia bermakna” iya” yaitu harpun jawab(حرف الجواب)dan tidak dipakai dalam jumlah ismiyah, tidak nasab dan juga tidak khobar, karena allaziina( الذين) adalah ismun mausul (إسم الموصول) mabni fi mahli ropa’.Dan alamat ropa’nya waw (واو).Karena jama’ muzakkaris salim, dan mupradnya:Sobii (صابي). Internet. Muttaqi, Kesalahan Tata Bahasa al-Qur’an, http://www.muttaqi89.com/2016/03/kesalahan-tata-bahasa-alquran-al-maidah.html?m=1 diakses pada 23 Agustus 2018 pukul 15.17 WIB). Namun, dari sekian banyak mufasir, sebut saja Zamakhsyari, lebih memilih pendapat pertama. Begitu juga al-Syu’ara ini yang juga sama menegaskan sebagai berikut;

” الصابئون مرفوع على المبتدا.Dan khobrnya mahzub yang kira-kiranya adalah;

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى من امن منهم بالله واليوم الأخر فلا خوف عليهم ولا هم يخزنون والصابئون كذلك.

Sesungguhnya orang mukmin,orang Yahudi, siapa saja diantara mereka yang berimana kepada allah dan hari akhir dan melakukan amal sholeh, mereka mendapt pahala dari sisi tuhan tidak ada kewatiran terhadap mereka dan mereka tidak pula mereka bersedih hati, demikian juga dengan orang saabiin dan orang nasrani.” (al-Syaukany,   hal.  Juz. ).

Disamping itu, dibedakannya bacaan (baca: tatabahasa) kata الصابئون  di surat al-Maidah ini juga memang bertujuan untuk mempermudah mengenal dan membedakan tiga sekte yang disebutkan oleh Allah tersebut: الذين أمنوا – الذين هادوا – النصارى – الصابئون. Bahwa tiga golongan pertama itu memiliki keterkaitan yang erat antara satu sama lain  sebab masing-masing diberikan kitab suci dan diutusnya Rasul kepada mereka; 1). Islam; kitab sucinya al-Qur’an dan Nabinya Muhammad; 2). Yahudi: kitab sucinya Taurat dan Nabinya Musa as; 3). Nasrani; kitab sucinya Injil dan Nabinya Isa as. Sementara, golongan terakhir yang disebutkan, yakni namun shabi’um adalah kaum yang tidak memiliki kitab suci dan Rasul yang diutus kepada mereka. Karena alasan ini, kata tersebut diakhirkan dan memiliki tata bahasa yang berbeda dari yang lain lainnya.Internet (Muttaqi, Kesalahan Tata Bahasa al-Qur’an, http://www.muttaqi89.com/2016/03/kesalahan-tata-bahasa-alquran-al-maidah.html?m=1 diakses pada 23 Agustus 2018 pukul 15.17 WIB)) dan sekali lagi, itu bukan lah suatu kesalahan al-Qur’an, justru malah membuktikan bahwa betapa tingginya nilai ketata bahasanya. Berkaitan dengan ini, Ibnu ‘Asyur, seorang mufasir abad pertengahan berkata;

“Selanjutnya… Dan di antara kewajiban yang harus diyakini bahwa redaksi ayat di atas memang begitulah yang diturunkan oleh Allah, dan seperti itulah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan kepada umatnya, dan seperti itu pula redaksi yang diterima oleh kaum muslimin, juga telah ditulis di dalam mushaf-mushaf, sedangkan mereka semua adalah orang Arab yang asli, kita juga memiliki dasar dalam ungkapan bahasa Arab tentang macam-macam ma’thuf yang serupa dengan ayat di atas meskipun penggunaannya tidak banyak dipakai, namun redakssi tersebut termasuk redaksi yang fashih dan ringkas”. (Ibnu ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, hal.  Juz. ).

Lebih tegas lagi, beliau menjelaskan manfaat dibacanya kata الصابئون  tersebut dengan rafa’, dia berkata; apa artinya ini?. Dia menjelaskan seperti ini:

“Sungguh marfu’ pada redaksi ini adalah asing, maka seorang yang membaca akan terhenti pada kata tersebut dan bertanya: Kenapa isim ini marfu’?, padahal biasanya pada redaksi seperti ini adalah seharusnya manshub ?. Maka hendaknya dijawab: “Keasingan akan marfu’nya kata “الصابئون  “ sesuai dengan keasingan masuknya orang-orang shabiin termasuk yang dijanjikan mendapatkan ampunan; karena mereka menyembah planet-planet, mereka sebenarnya lebih jauh dari petunjuk (hidayah) dari pada orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai hampir saja mereka berputus asa akan dijanjikan pengampunan dan keselamatan, maka hal itu diperingatkan bahwa pengampunan Allah begitu agung, mencakup semua orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, dan beramal shaleh meskipun dari kalangan orang-orang shabiin”. (Baca: Tafsir ayat al Maidah dari “Tafsir Ibnu ‘Asyur”).

Ketiga, bahasa al-Qur’an itu konsisten, saling menguatkan dan tidak bertentangan satu sama lain (Qs. al-Nisa[]: 83). Ya, kelebihan bahasa kitab suci ini adalah ia begitu teratur, kaya makna dan selalu tepat. Tak sedikitpun, kalau ada satu kata atau ayat yang terbukti saling berlawanan atau saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak ada. Toh alih-alih ada sebagian pihak yang hanya menilai secara tekstualnya, sehingga ada beberapa ayat yang diclaim saling kontradiktif seperti ayat tentang penciptaan manusia, pembentukan langit dan bumi, dan lain sebaginya, — silakan lihat di bab sebelumnya— itu semua adalah satu dugaan yang amat keliru. Sebab, ayat-ayat yang terkesan kontradiktif tersebut sebenarnya adalah satu rangkaian dan saling menguatkan; hanya saja disebutkan secara terpotong-potong. Bahkan, pembuktian sain zaman modern ini pun juga membenarkan bahwa di dalam Al-Qur’an tidak ada informasi yang simpang siur; semuanya benar dan utuh. Berkaitan dengan ini, al-Qurthubi dalam tafsirnya menegaskan;

Bahwa tidak ada bagi seorang pembicara (manusia) yang bercakap-cakap begitu banyak kecuali di dalamnya pasti ditemukan banyak pertentangan satu sama lain; adakalanya di dalam sifat dan lafalnya, adakalanya di dalam maknanya, adakalanya pada persoalan kontradiktifnya dan adakalanya di dalam unsur kedutastaannya. Maka Allah menurunkan Al-Qur’an dan memerintahkan mereka untuk mentadaburinya, sebab mereka tidak bakal bisa menemukan pertentangan atau kontradiktif satu pun di dalamnya baik di dalam sifatnya, atau penolakan di dalam maknanya, dan tidak pula tarik ulur dan dusta di dalam berita-berita yang dikabarkannya terkait hal-hal ghaib dan samar.” (-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, hal.  , Juz.  ).

Keempat, bahasa al-Qur’an itu teratur, lurus, seimbang dan memukau (Qs. al-Zumar[]: 28). Untuk alasan yang keempat ini barangkali sudah tidak diragukan lagi. Semua orang; baik para cendekiawan dari timur atau barat maupun para orang sama sekalipun, telah membenarkan ini semua. Bagi seorang ahli tata bahasa, tentu dengan mudah mengenali tingginya bahasa kitab suci ini. Maka tidak heran, jika sekaliber Khalid Bin Walid yang terkenal ahli retorika saat itu, ternyata juga mengakui kehebatan al-Quran. Malahan beliau dengan suka rela, masuk Islam. Bagiku pula bagi orang, yang tak terlalu atau bahkan tak mengerti ilmu tata bahasa, juga akan kagum dan lantas mengakui keistimewaannya. Yakni tatkala mereka pertama kali mendengarkan satu atau beberapa ayat Al-Qur’an dilantunkan oleh Seong Qari—- apa kesan mereja rasakan?. Paling tidak, mereka akan sama -sama menjawab: “merdu sekali suaranya”. “Indahnya susunan kata-katanya”. Inilah, bukti kecil dari keistimewaan bahasa al-Qur’an. Lalu kita akan bertanya, mengapa orang awam pun juga ikut merasakan keindahan bahasa Kalam ilahi ini?. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah karena bahasa al-Qur’an itu disusun dengan begitu rapi, sempurna, tepat, terstruktur, tidak bertele-tele, tetap sasaran dan yang jelas sangat memperhatikan gaya sastranya. Hal itu, salah satunya karena disajikan dalam bentuk irama yang indah yang mengeluarkan ritme suara yang seimbang. Kita bisa menyaksikan, hampir di setiap akhir ayat, selalu berbunyi sama; ada yang berimaa d (surat Al-Ikhlas), q (surat al-alaq), S (surat al-Nas), H (suatu al-syams) dan masih banyak lagi.

Orang orang awam mendengar surat-surat tersebut dibacakan, secara tidak langsung pasti ada daya tarik yang mempengaruhi hati, pikiran dan jiwanya menjadi tenang, nyaman lagi terkagum-kagum terlebih ketika yang membacanya adalah orang yang bersuara merdu lagi elok parasnya. Tidak hanya karena berirama, keistimewaan bahasa al-Qur’an juga bisa dilihat dari gaya ungkapannya yang ringkas, namun kaya makna. Kita ambil contoh penggalan ayat: الحمد لله رب العالمين  / segala puji bagi Allah—bahwa sekalipun seringkali ini, namun ia sarat makna. Yakni darinya,kita bisa memetik pelajaran; 1). Tentang syukur; 2). Tentang nikmat-nikmat Allah; 3). Bentuk-bentuk pujian; 4). Tentang wajibnya bersyukur kepada Allah semata; 5). Kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta dan masih banyak lagi. Ini baru satu kalimat, belum satu surat, bagaimana dengan ayat-ayat lain, tentu tak terhingga berapa pelajaran yang dapat kita petik.

Demikianlah, empat faktor yang mempengaruhi keistimewaan bahasa al-Qur’an yakni mulai dari bahasanya yang tak pernah dusta, tak pernah salah, tak pernah kontradiksi, hingga selalu seimbang dan terstruktur. Karena inilah, sampai kapanpun, al-Qur’an terus layak menjadi “karya sastra” dengan retorika bahasa yang tak tertandingi. Maka wajar, bila Seorang ilmuwan dari Inggris Fard Ghayum, Guru Besar Universitas London juga turut mengakuinya dengan berkata seperti ini;

”Al Qur’an adalah kitab mendunia yang memiliki keistimewaan sastra yang tinggi, yang terjemahnya saja tidak bisa mewakili tingginya sastra aslinya. Karena lagunya berirama khusus, keindahannya mengagumkan, dan pengaruhnya yang luar bisa terhadap yang mendengarkan. Banyak kaum nashrani Arab yang terpengaruh gaya bahasa dan sastranya. Begitu juga kaum orientalis, banyak di antara mereka yang menerima Al Qur’an. Ketika dibacakan Al Qur’an, kami orang-orang Nashrani terpengaruh, laksana sihir yang menembus jiwa kami, kami merasakan ungakapnnya yang indah, hukumnya yang orisinil. Keistimewaan seperti ini yang menjadikan seseorang merasa terpuaskan, dan bahwa Al Qur’an tidak mungkin ada yang mampu menandinginya.” []

 

Properti Lain Lokasi

Terbaik
Perumahan KPR Syariah Bekasi Selatan  Arkanza 3 jatiasih

Perumahan KPR Syariah Bekasi Selatan Arkanza 3 jatiasih

RP.535.000.000
Bekasi Timur
Lt/Lb : 70.2 m² / 36 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah di Mekarsari Kota Bogor

Perumahan Syariah di Mekarsari Kota Bogor

Rp.375.000.000
Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat
Lt/Lb : 60 m² / 36 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Bumi Asri Permai Bekasi Timur

Perumahan Syariah Bumi Asri Permai Bekasi Timur

Rp.795.000.000
Jl.Rudal Komplek Jaladha Pura samping Mall BTC (Bekasi Trade Centre) Bekasi Timur
Lt/Lb : 75 m² / 65 m²
Lihat Detail »
Promo
Rumah Kpr Syariah Depok Mutiara Hasanah Residence

Rumah Kpr Syariah Depok Mutiara Hasanah Residence

365.421.000
Sawangan, Depok
Lt/Lb : 61 m² / 36 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Sakinah Residence  Cibinong Kota Bogor

Perumahan Syariah Sakinah Residence Cibinong Kota Bogor

299.903.000
Pabuaran Cibinong Bogor
Lt/Lb : 45 m² / 27 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Griya Radja Dekat Stasiun bogor

Perumahan Syariah Griya Radja Dekat Stasiun bogor

386 juta
Kel. Pasir Jaya Kec. Bogor Barat
Lt/Lb : 36 m² / 72 m²
Lihat Detail »