Menu
0819-1313-1328

Seni Lagu Al-Qur’an

15th May 2019 Harga : Lokasi : Kode listing : L.Tanah : m² L.Bangunan : m²

Gambar / Foto Seni Lagu Al-Qur’an

Detail Info Seni Lagu Al-Qur’an

Kode listing:
Harga:
Lokasi:
Luas Tanah:
Luas Bangunan:
Sertifikat:
Daya listrik:
Kamar Tidur:
Kamar Mandi:
Jumlah Lantai:
Garasi:
Menghadap:

Deskripsi Mobil Seni Lagu Al-Qur’an

Seni Lagu Al-Qur’an

Oleh: Zakiyal Fikri Mucahmmad

Tidak diragukan lagi bahwa bahwa al-Qur’an adalah sebuh teks yang sangat istimewa mulai dari konten informasinya yahg sangat berkualiatas, visi-misinya yang amat progresif dan menembus ruang dan waktu, sampai artikulasi huruf dan susunan katanya yang tepat, indah dan menarik bagi setiap pembaca dan pendengarnya. Keistimewaan yang terakhir yang disebutkan yakni artikulasi huruf dan formasi kata yang tepat adalah satu hal yang menjadikan al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab dan “buku bacaan” yang pantas dan enak untuk dilagukan. Alasannya cukup sederhana kenapa artikulasi huruf-huruf al-Qur’an enak untuk dilakukan. Pertama,  karena  adanya rima atau bunyi akhir ayat yang sama dan serasi bak sebuah sajak yang mempesona—yang selanjutanya dalam ilmu al-Qur’an diistilahkan dengan fawashil. Terdapat banyak rima atau fawashil dalam al-Qur’an; mulai dari riwa s seperti dalam surat al-Nas, rima q dalam surat al-Falaq, rima d pada surat al-Ikhlas, rima h dalam surat al-Humazah sampai rima-rima lainnya yang sangat banyak—yang tak mungkin disebutkan di sini. Sehingga dengan itu, seseorang akan menjadi lebih tertarik untuk melagukan setiap ayatnya dan orang yang mendengarnya pun terdecak kagum.

Kedua, karena memang artikulasi huruf dan pengucapannya sudah di-setiting sedemikian rupa oleh Allah SWT dan sesuai dengan aturan ilmu tajwid, mulai dari izhar, idgham, ikhfa’, iqlab, mad, dan lain sengainya—-yang semuanya itu, secara tidak langsung telah memudahkan setiap lidah manusia untuk membaca dan melagukannya. Coba bayangkan, bila hukum-hukum tajwid tersebut tidak dilakukan secara sempurna seperti yang semestinya izhar malah di-idghamkan, yang semestinya dibaca pendek malah panjang, yang semestinya di tasydid, justru malah dibaca satu huruf atau lain sebagainya, tentu akan kacau tak karuan; artikulasi huruf dan pengucapannya menjadi tidak serasi bahkan bisa membuat orang bosan mendengarnya. Barangkali karena dua alasan inilah, kemudian teks al-Qur’an layak dan pantas untuk dilagukan. Berbeda dengan teks-teks kitab lainnya, yang ketika kita melagukannya akan terdengar ‘lucu atau memalukan’, karena memang secara settingnya tidak untuk dilaguan hanya sekedar dibaca saja dan format hurufnya juga “tak mengenakan” untuk dilagukan. Sehingga karena itu, mudahnya melagukan al-Qur’an bagian dari Khashaish atau keistimewaan al-Qur’an itu sendiri yang tidak dimiliki dan diterapkan pada kitab lain.

Sebenarnya, persoalan lagu-melagu atau menyanyikan al-Qur’an merupakan persoalan cukup serius bahkan dalam isu belakangan yang lalu telah banyak yang memutuskannya sebagai bagian dari kebid’ahan dan haram hukumnya. Hal tersebut, barangkali disebabkan karena perbedaan maksud sabda Nabi Saw yang menyoal lagu-melagu tersbut. Dalam beberapa hadits disebutkan: “Allah tidaklah mendengarkan sesuatu, seperti Allah mendengar suara Nabi-Nya yang melagukan dengan suara yang indah dan nyaring.” (HR. Muttaafaqun’alaih). Riwayat lain juga menyebutkan: “Allah  tidak pernah mengijinkan untuk sesuatu sebagimana Dia mengijinkan Nabi-Nya untuk memperindah suara saat membaca al-Qur’an.” (HR. Al-Nasa’i). Dalam riwayat lain juga dinyatakan: “hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR. Ahmad dan al-Nasa’i). Bahkan sampai Nabi Saw mengatakan: “siapa yang tidak melagukan (baca: memperindah suaranya) ketika membaca al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Dalam hadist-hadits tersebut, secara tekstual, memang seakan-akan Nabi Saw memerintahkan untuk melagukan al-Qur’an, sementara juga memerintahkan untuk memperbagus suara ketika hendak membacanya. Sehingga pada ujungnya terjadilah perselisihan pendapat diantara para ulama tentang kebolehan al-ilhan (menyanyikannya) atau membacanya dengan suara bagus. Sufyan al-Stauri (w. 191 H) memahami dengan kewajiban melagukan al-Qur’an. Sedangkan al-Syafi’i (w. 204 H) dan al-Thabari (w. 310) H) lebih memilih pada makna memperbagus suara (tahsin al-shaut) (Fahd bin Abdurrahman, 1997: 120). Namun secara kesepakatan mayoritas ulama, maksud melagukan al-Qur’an (al-taghanni bi al-Qur’an) tersebut adalah bukan membaca al-Qur’an dengan meniru lagu namun yang maksud adalah memperindah bacaannya. Dalam hal ini, Ibnu Hajar (w. 852 H) seperti yang dikutip Fahd bin Abdurrahman menegaskan; “bahwa di antara ulama salaf terdapat perselisihan terkait membolehkan al-Qur’an untuk dinyanyikan/dilakukan (ilhan). Adapun memperbagus suara dan mendahulukan (orang yang lebih bagus suaranya) atas yang lain, itu tidak ada pertentangan terlihat hal itu (Fahd bin Abdurrahman, 1997: 121). Lebih tegas lagi,  al-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabya, al-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an , menyatakan sebagai berikut;

“para ulama salaf maupun generasi setelahnya, di kalangan para sahabat maupun tabi’in, dan para ulama dari berbagai negeri bahwa mereka sepakat tentang dianjurkannya memperindah bacaan al-Qur’an.” Lebih lanjut beliau mengatakan: “mayoritas ulama berpendapat,  makna “siapa yag tidak yataghanna bil al-qur’an (melagukan al-Qur’an) adalah siapa yang tidak memperindah suaranya dalam membaca al-Qur’an. Para ulama juga mengatakan, dianjurkan memperindah bacaan al-Qur’an dan membacanya dengan urut, selama tidak keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahkan huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, maka hukumnya haram.”

Jadi, persoalan lagu-melagukan al-Qur’an (al-taghanni bi al-Qur’an) sebenarnya sudah jelas, dan telah dibahas oleh para pakar semenjak ratusan tahun yang lalu. Kalaupun ada yang melagukannya, para ulama generasi salaf telah merumuskan aturan atau format note lagu/langgam yang menjadi acuan— yang selanjutnya disebut dengan tausyeh atau lagu tilawah Al-Qur’an seperti Bayati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rost, Jiharkah, dan Sikah.   sebagai wadah bagi mereka untuk mengekspresikan seni tarik suara. Hanya saja, belakangan ini, persoalan tersebut sempat mencuat kembali dan semakin heboh karena ‘ulah’ seorang ustad A yang membaca al-Qur’an dengan menggunakan lagu/langgam Jawa (semacam lirik sinden) saat acara pengajian maulid di istana kepresidenan.Internet (https://m.merdeka.com/peristiwa/lantunan-ayat-alquran-dengan-langgam-jawa-di-istana-jadi-perdebatan.html diakses pada 23 Agustus 2018 pukule16.01 WIB). Tidak hanya di Indonesia, kasus serupa juga terjadi di luar negeri yang pelakunya adalah imam shalat dengan melantunkan lagu Jawa.Internet (https://www.google.co.id/url?q=https://m.youtube.com/watch%3Fv%3DTcaqrBVOWEo&sa=U&ved=2ahUKEwi6sayn0_fZAhUENJQKHYHuAjcQtwIwA3oECAkQAQ&usg=AOvVaw2y5Pn6pDaQtX-dGtYZV1zO diakses pada 23 Agustus 2018 pukul 16.02 WIB). Hal ini, semakin membuat masyarakat terpancing untuk saling melontarkan pendapat; ada yang menerimanya dan ada pula yang mengecamnya. Tidak ketinggalan pula, para ustadz, kyai dan pakar al-Qur’an hingga ormas Islam pun turut menyikapi hal tersebut. Adalah Buya Yahya, ulama karismatik asal Cirebon yang keras mengatakan bahwa hukum melagukan dengan langgam Jawa adalah haram karena bisa merujuk tajwid dan bacaan al-Qur’an—sebagaiman yang dilansir www.tribunislam.com (25/5/2015). ulama satu ini menegaskan bahwa: “al-Qur’an itu Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan Lisan’Arabiy, yang dengan demikian tidak boleh dijerman-jermankan, tidak boleh dijawa-jawakan, tidak boleh dispanyol-spanyolkan. Karena lisan ‘Arabiy tadi.” sehingga, imbuh dia, “Ketika membaca Qul Huwallahu Ahad dengan tajwid yang benar, maka itulah yang disebut isan ‘Arabiy, bukan lagu Jerman, bukan lagu Arab. Jika al-Qur’an diikutkan lagu, dan lagu itu ada panjangnya sendiri, apakah itu dandanggulo, dan lain sebagainya, nah, Al Qur’an disesuaikan dengan lagu itu, ya ini yang merusak. Pasti salah,” tegasnya. sementara itu, Ma’ruf Amin, sebagai waketum MUI— seperti yang dilansir merdeka.com (17/5/2015) terlihat memberikan kebolehan. “Enggak masalah asal tajwid tetap harus dijaga kalau lagu enggak masalah,” ucap dia singkat.

Melihat persoalan ini semakin kompleks dan tidak bisa dibiarkan, maka Ikatan Qari dan hafidz Indonesia (JQHNU) menggelar seminar di kantor PBNU pusat bertajuk ” Kontroversi langgam Nusantara” sebagai solusi atas kasus tersebut. Seminar ini dihadiri oleh beberapa pakar dan penggiat al-Qur’an seperti Dr. KH. Muhaimin Zein, ketua JQHNU, Sayid Ali Rabbani dari Iran, Prof. Dr. Sa’id Aqil Siradj, ketum PBNU, Dr. Mukhlis Hanafi, Kepala Lanjah Pentashihan al-Qur’an dan Dr. Ahsin Sakho, Ketua Majelis Ilmi PP JQHNU sebagai narasumber dan kebetulan penulis sendiri juga hadir di dalamnya, maka berikut ini beberapa kesimpulan penting yang penulis catat pada acara tersebut sebagaimana dikutip dari nuonline (Selasa, 16/5/2015): (http://www.nu.or.id/post/read/60213/ulama-iran-hadiri-seminar-tilawah-langgam-nusantara-jqhnu).

Pertama, seluruh peserta seminar sepakat bahwa sah-sah saja melagukan al-Qur’an dengan langgam Jawa atau langgam daerah lainnya. Asalkan tidak merusak hukum tajwid, makhraj hurufnya, dan kekhidmatan dalam membaca Al-Qur’an.

Kedua, menurut Mukhlis Hanafi, kepala Pentashihan al-Qur’an, terkait masalah lagu al-Qur’an tidak ada aturan baku yang valid di zaman Rasulullah Saw. Dengan demikian, ia meyakini bahwa langgam itu bisa jadi adalah kreasi umat yang bersifat ijtihad. Pernyataan ini juga diamini oleh Ahsin Sakho, rektor IIQ Jakarta, bahwa menurutnya sah-sah saja (menggunakan langgam Nusantara), sejauh tidak ada mawani’ (penghalang) yang menyebabkan ia makruh atau haram,”

Ketiga, secara pribadi, penulis juga sepakat dengan konsensus seminar di atas. Bahwa boleh-boleh saja, melagukan al-Qur’an dengan langgam atau lagu Jawa atau lagu-lagu yang wajar yang sekiranya tidak merusak bacaan al-Qur’an sendiri. Karena memang urusan lagu tidak memiliki aturan khusus yang harus diikuti. Kendati diperbolehkan, penggunaan langgam non-konvensional (Jawa/Sunda) dalam membaca al-Qur’an harus tetap memperhatikan syarat-syaratnya supaya tidak berubah menjadi makruh atau haram. Syarat tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Mukhlis Hanafi adalah: 1). Memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid, seperti panjang pendek bacaan, makhârijul hurûf, waqaf-ibtidâ`, dan lain sebagainya; 2). Memperhatikan adab tilawah, antara lain disertai niat ikhlas karena Allah, menghadirkan kekhusyukan, tadabbur (penuh penghayatan dan pemaknaan/meresapi makna); 3). Tidak berlebihan (isrâf) dan tidak dibuat-buat (takalluf); 4). Langgam yang digunakan hendaknya tidak berasal dari lagu atau langgam yang biasa digunakan dalam hal kemaksiatan; 5).Tidak diringi dengan musik yang dapat mengganggu kekhusyukan pembaca dan atau pendengar, sehingga tujuan membaca Al-Qur`an, yaitu men-tadabburinya, tidak tercapai.

Keempat, untuk menguatkan konsensus ini, penulis sengaja hadirkan respon dari pakar tafsir Indonesia, yakni Quraish Shihab dalam menanggapi kasus langgam Jawa tersebut. Seperti yang dikutip merdeka.com (20/5/2015) dari quraishahihab.com yaitu sebagai berikut: “Tidak dapat disangkal bahwa ada tatacara yang harus diindahkan dalam membaca al-Quran, misalnya tentang di mana harus/boleh memulai dan berhenti, bagaimana membunyikan huruf secara mandiri dan pada saat pertemuannya dengan berbagai huruf dalam satu kalimat, dan lain-lain. Inilah syarat utama untuk penilaian baik atau buruknya satu bacaan. Nah, bagaimana dengan langgam atau nadanya? Hemat penulis, tidak ada ketentuan yang baku. Karena itu, misalnya, kita biasa mendengar qari dari Mesir membaca dengan cara yang berbeda dengan nada dan langgam qari dari Saudi atau Sudan. Atas dasar itu, apalah salahnya jika qari dari Indonesia membacanya dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi? Bukankah Nabi saw. menganjurkan agar al-Quran dibaca dengan suara merdu dan langgam yang baik, tanpa menentukan langgam tertentu? Nah, jika langgam Jawa dinilai baik dan menyentuh bagi orang Jawa atau Bugis bagi orang Bugis, dan lain-lain, maka bukankah itu lebih baik selama ketentuan bacaan telah terpenuhi?

Memang ada riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi saw. yang menganjurkan agar al-Quran dibaca dengan langgam Arab. Konon beliau bersabda: Bacalah al-Quran dengan langgam Arab dan suara (cara pengucapan) mereka; jangan sekali-kali membacanya dengan langgam orang-orang fasiq dan dukun-dukun. Nanti akan datang orang-orang yang membacanya dengan mengulang-ulangnya seperti pengulangan para penyanyi dan para pendeta atau seperti tangisan orang yang dibayar untuk menangisi seorang yang meninggal dunia.

Hadits tersebut kalaupun dinilai shahih, maka itu bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab beliau larang. Bukankah beliau menganjurkan untuk membaca dengan baik dan indah, apalagi sementara pakar hadits menilai riwayat yang diriwayatkan oleh an-Nasaiy al-Baihaqy dan at-Thabarani di atas lemah karena dalam rangkaian perawinya terdapat Baqiyah bin al-Walid yang dikenal lemah dalam riwayat-riwayatnya. Demikian, wa Allah Alam.”  (https://m.merdeka.com/peristiwa/ini-kata-quraish-shihab-tentang-baca-alquran-pakai-langgam-jawa.html).

Demikianlah pendapat tentang persoalan melagukan al-Qur’an. yang jales, terlepas dari perselisihanan para ulama tentangnya, yang menjadi titik poin di sini adalah keberadaan al-qur’an yang layak, pantas dan enak untuk lagukan sehingga kiat dianjurkan untuk memperindah suara ketika membacanya. Inilah yang kemudian dikategorikan sebagai bagian dari Khashaish al-Qur’an (kestimewaan al-qur’an) yang tidak dimiliki oleh teks-teks kitab selainnya. []

Properti Lain Lokasi

Terbaik
Perumahan Syariah Nakhiil Bojong Gede Kota Bogor

Perumahan Syariah Nakhiil Bojong Gede Kota Bogor

Rp.630.000.000
bojong gede bogor
Lt/Lb : 60 m² / 54 m²
Lihat Detail »
Promo
Perumahan Syariah Jatisari Village Kota Bekasi

Perumahan Syariah Jatisari Village Kota Bekasi

419.572.800
Jatisari Bekasi Kota
Lt/Lb : 63 m² / 38 m²
Lihat Detail »
Terbaik
Perumahan Syariah Taman Darussalam Di Kota Bogor

Perumahan Syariah Taman Darussalam Di Kota Bogor

Rp.229.409.300
Ciampea kab Bogor
Lt/Lb : 60 m² / 27 m²
Lihat Detail »